Survey Potensi Hutan Produksi di Salah Satu Kawasan HP.Rawas ulu

Posted in Hutan Indonesia with tags , , on 3 December 2009 by ja posman napitu

Kondisi hutan produksi di kawasan HP. Rawas Ulu dan Ulu Rawas di Kab.Musi Rawas umumnya telah mengalami perubahan, sudah jarang di temukan hutan produksi yang memiliki potensi tinggi. Salah satu penyebabnya ada okupasi masyarakat, hampir menguasai seluruh kawasan hutan produksi di HP.Rawas Ulu dan Ulu Rawas. Umumnya kawasan hutan telah di tanami jenis karet/ randu (Hevea braziliensis).

Kondisi Hutan produksi di HP. Rawas Ulu dan Ulu Rawas

Menuju Kawasan

Jelajah Hutan

Indah Hutan Ku

Hasil Survey Jenis Kayu :

Strategi Pemasaran Kayu Olahan Indonesia Di Pasar Internasional

Posted in Hutan Indonesia with tags , on 14 October 2009 by ja posman napitu

Soeratmadi Atmosasmito

ISSN 1411-189X

This research is intended to conceive a framework for increasing sawntimber export by analyzing the ways of transaction that were implemented by exporter. The data was obtained from the related institutions and publications. The result of this study can be summarized in ten important points that are significantly determine the strategy of Indonesia�s sawntimber marketing in international market. The ten points were: (1) Utilization of tehnology improvement and experience, (2) Recognition of the importer cultures, (3) Extention of the importer, (4) Understanding the producers, (5) The variety of FOB, (6) Ecolabelling issue, (7) Sustainable Forest Management, (8) The degradation of forests, (9) The environmental issue as a barrier to entry, (10) The domination of plywood in the wood product market.

http://jurnal.stiekesatuan.ac.id/index.php?p=show_detail&id=13

SEMANGAT KEMERDEKAAN SI “UCOK”

Posted in Hutan Indonesia with tags , on 13 August 2009 by ja posman napitu

Si Ucok sudah membeli baju sekolah yang baru… berbagai macam cara dibuatnya membujuk oppungnya, supaya mau membeli baju itu. Perasaan bangga sangat terlihat diraut wajahnya, seakan tidak pernah  lepas matanya memandang baju barunya.  Terbayang  ikut upacaya bendera pada tanggal 17 Agustus lapangan bunga, pusat upacara bendera tujuh belasan yang setiap tahunnya dilaksanakan di Kota Siantar. Mantap kali gumamnya dalam hati………………………

Anak Sekolah Dasar Negeri 143 yang duduk di kelas IVb ini, seakan memiliki semangat tersendiri akan makna memperingati hari kemerdekaan negara tercinta. Walau dia kurang memahami akan arti perjuangan dan kemerdekaan suatu negara, namun semangat ikut serta  upacara bendera tujuh belasan sudah sangat memuaskan bathinnya. Suatu ungkapan perasaan yang sangat sederhana dan polos namun memberikan nilai penghargaan yang sangat besar akan arti kemerdekaan.  Si “Ucok” hanya tau bahwa hari ini negaranya sedang merayakan hari kemerdekaan, sebagaimana yang banyak dibicarakan orang di kampungnya.

Penaksiran Cepat Cadangan Karbon

Posted in Hutan Indonesia with tags on 16 June 2009 by ja posman napitu

Menaksir cadangan karbon tersimpan, dapat dilakukan dengan perhitungan kandungan biomass pada hutan tanah mineral dan ketebalan gambut. Kegiatan penafsiran cepat kandungan karbon (C) dilakukan dengan berbagai tehnik seperti terlihat pada gambar dibawah :

IMG_3424

cadangan karbon tegakan

karbon

karbon

karbon gambur

karbon gambur

karbon biomassa

karbon biomassa

diskusi cadangan karbon

diskusi cadangan karbon

cadangan karbon di lahan gambut

cadangan karbon di lahan gambut

Identifikasi Jenis Kayu

Posted in Hutan Indonesia with tags on 16 June 2009 by ja posman napitu

Tehnik mengenal jenis kayu dapat dilakukan berdasarkan ciri-ciri anatomis yang dimiliki kayu tersebut. Untuk mengidentifikasi kayu secara melalui anatomis kayu antara lain dilakukan berdasarkan pori-pori kayu tersebut. Pengenalan jenis kayu berdasarkan bentuk pori, ukuran dan jumlah pori dapat dilihat seperti bentuk-bentuk pori berdasarkan gambar dibawah ini :

pori  pori kayuuntuk mendapat kan informasi lebih lanjut tentang pengenalan jenis kayu, kelas kuat dan kelas awet..silakan kirim permintaan via mail : jp_na7@yahoo.com.

Aku Ingin Pintar

Posted in Hutan Indonesia with tags on 12 June 2009 by ja posman napitu

Keingintahuan anak sekolah dasar (SD) tentang berbagai hal, memang sangat perlu didukung. Jika bahan bacaan yang menarik bagi anak SD di sekolah  sangat kurang, bagaimana mereka dapat menambah wawasan dan mengetahui berbagai macam hal-hal yang sesuai buat mereka.

“Aku ingin pintar”..suatu ungkapan sederhana  bermakna sangat dalam bagi anak sekolah dasar (SD). Jika bahan bacaan yang menarik  untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan buat mereka saja sudah tidak ada ..bagaimana mereka bisa pintar ?.

Tentu kita harus ikut perduli terhadap keadaan ini, jika anda tertarik untuk menyumbangkan buku bacaan ke anak anak SD kami siap membantu  (send email : jp_na7@yahoo.com).

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

Picture18

Deforestation and forest degradation factors

Posted in Hutan Indonesia with tags , , on 22 April 2009 by ja posman napitu

Jean-Paul Lanly1

Abstract

An accurate analysis of deforestation and forest degradation requires that clear distinctions be made between these two terms, between the factors and underlying causes of these processes and between direct (e.g. the different forms of agriculture) and indirect (e.g. the development of logging road infrastructure)factors. A very large number of deforestation studies, essentially in the tropics, were carried out in the last 40 years at all levels and were facilitated by remote sensing. However they seldom included an objective assessment of the respective share of the various direct deforestation factors. The situation is even less satisfactory regarding forest degradation due in particular to the imprecision and multiple, and often subjective, interpretations of the term and the gradation it implies. FAO forest assessments of 1980 to 2000 tried to determine the relative importance of direct deforestation factors at regional and global levels: horizontal expansion of the various forms of agriculture and animal husbandry taken together remains by far the most important direct factor, but the share of shifting cultivation as well as that of ranching and colonization programmes decreased during that period. Forest area changes in industrialized countries, generally positive, have been less the subject of study, contrary to what has been the case of forest degradation resulting from air pollution, fires, insects and diseases. In conclusion, stress is put on the need for every country to strengthen its capacity in all forest inventory disciplines in support of sound forest land use and management.

1 Ingénieur Général honoraire du Génie Rural, des Eaux et des Forêts, 42 rue Albert Thomas, 75010 Paris, France.
jean-paul.lanly@noos.fr


KUMPULAN GAMBAR PERUBAHAN HUTAN ALAM MENJADI HUTAN TANAMAN

Posted in Hutan Indonesia on 19 April 2009 by ja posman napitu

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-1

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-9

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-17

Global Distribusi Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut Di Dunia

Posted in Hutan Indonesia on 19 April 2009 by ja posman napitu

Jika kita memperhatikan proses distribusi Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut di dunia maka Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung.  Potensi terbesar terhadap pendistribusian dari Terumbu Karang (coral), Bakau-bakauan (mangrove) dan Rumput Laut  (seagrass) dari ketiga jenis tersebut di dunia ada di Indonesia.

Kondisi alam negeri ini yang sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan dari  ketiga jenis diatas, sudah tentunya sesuatu yang sangat membanggakan dan selayaknya untuk di perhatikan. Tidak semua wilayah di muka bumi ini memiliki potensi Terumbu Karang , Mangrove dan Rumput laut tersebut.

Jika pengerusakan pengerusakan terus berlangsung yang disebabkan oleh penebangan liar, penangkapan ikan dengan menggunakan bom, pembuangan kotoran dan limbah beracun yang berlebihan ke sungai dan laut, tentu akan menyebabkan kerusakan akan potensi berharga tersebut. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan peranan semua pihak dan pemerintah untuk memperhatikan dan melindungi sehingga “potensi dunia” tersebut tidak hilang hingga punak. Selamatkan terumbu karang, mangrove dan rumput laut. Pendistribusian Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut seperti yang di lansir oleh UNEP.WCMC  Tahun 2001 terlihat seperti pada gambar dibawah ini :

distribution_of_coral_mangrove_and_seagrass_diversity2

Penguatan Sumberdaya Manusia Dalam Pengelolaan Hutan Dengan Pembentukan Sekolah Kehutanan Menengah Atas

Posted in Hutan Indonesia with tags , , on 6 February 2009 by ja posman napitu

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

Sumber Photo : http://www.skma.org/links-mainmenu-210/album-    skma-mainmenu-238.html

Penguatan sumberdaya manusia (SDM) bidang kehutanan harus dikembangkan dengan pembentukan kembali Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA), yang merupakan tenaga pioner dilapangan dalam pengelolaan hutan agar lebih baik. Terputusnya rantai tenaga teknis menengah kehutanan yang menguasai teknis kehutanan sangat dirasakan berdampak terhadap pengelolaan hutan.

Pengelolaan hutan tidak dapat dipandang sebagai permasalahan kecil yang cukup diatasi dengan perubahan kondisi alam, dari hutan alam menjadi hutan tanaman atau dari lahan gundul/gersang di tanami pohon agar menjadi hutan kembali. Pengalaman selama ini menunjukan kebijakan pengelolaan hutan tanpa pemahaman dengan pengalaman lapangan yang cukup tidak dapat menyelesaiakan permasalahan kehutanan.

Perubahan hutan alam menjadi hutan tanaman tidak menyelesaikan masalah kehutanan Indonesia hanya dalam pendapatan negara berupa PSDH namun secara keseluruhan perubahan tersebut berdampak pada aspek lain sehingga menggangu ekosistem yang ada. Pendapatan tersebut tidak seimbang dengan dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu perlu pengalaman lapangan dengan masa kerja mengabdi yang panjang sehingga dapat mengambil kebijakan yang pasti dalam penentuan pengelolaan hutan kedepannya.

Untuk menjawab permasalahan tersebut tenaga teknis menengah kehutanan yang didik di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) adalah salah satu carauntuk menjawab permasalahan tersebut. Sarjana kehutanan (S1) yang didik di kampus-kampus tidak dapat menyelesaikan permasalah terbukti dari kondisi yang dirasakan penulis saat ini. Hal ini di pandang akibat kurangnya pengalaman dan masa pengabdian untuk memahami hutan dan permasalahannya. Seyogyanya sarjana kehutanan yang dihasilkan merupakan lulusan SKMA yang telah mengabdi dihutan lebih kurang 2-3 tahun meningkatkan pengetahun setingkat Diploma (D1-D3) . Selanjutnya yang berpotensi mengabdi dilapangan setelah sekuranynya 2-3 tahun dapat meningkatkan pendidikan Diploma Ahli (D4), hingga menjadi Spesialis kehutanan  (S2), sampai Doktor Ahli (Phd).

Sistem pendidikan jalur cepat sekarang dengan perrekrutan tenaga kehutanan tingkat Sarjana Kehutanan (S1) dalam waktu 5-10 tahun menduduki jabatan pengambil kebijakan dalam pengelolaan hutan dirasa sangat cepat tanpa pengetahuan dan pengalaman mendalam tentang hutan dan poermasalahnya, sehingga cenderung lebih mementingkan emosi dan pengaruh tekanan politik atau keinginan seseorang atau kelompok. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kondisi kelestarian hutan. Tidak jarang kebijakan selalu berubah-ubah namun tidak membawa kearah perbaikan. Kebijakan yang dikeluarkan seakan tidak berpihak kepada hutan dan perbaikan kehutanan. Salah satu kebijakan yang sangat terasa adalah kebijakan percepatan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada hutan produksi.

Awal pengembangan HTI adalah pada lahan kritis/gundul yang tidak berhutan, namun saat ini HTI dikembangkan pada hutan alam produksi yang masih baik atau hutan sekunder yang masih memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna. Perubahan hutan alam produksi sekunder menjadi HTI tentu sangat berdampak terhadap ekosistem setempat, ditambah lagi tanaman yang ditanaman merupakan jenis tanaman Akassia.sp yang bukan merupakan jenis tanaman endemik sehingga perubahan akan terasa dari hulu hingga ke hili termasuk supplay makanan bagi ikan dan biota air lainnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa unsur hara dari hutan merupakan sumber makan dalam bentuk rantai makanan bagi biota air lainnya. Sehingga denan ini pemikiran akan perlunya pengalaman kerja di lapangan akan makna dan arti hutan dan permasalahannya sangatlah penting. Salah satu cara dengan mengembangkan kembali Sekolah Kehutaan Menengah Atas (SKMA) sebagai tenaga teknis menengah kehutanan yang memiliki pengalaman yang panjang nantinya. Akhirnya  harapan kita akan kelestarian hutan dan jayalah rimbawan Indonesia dapat terwujud.