Penaksiran Cepat Cadangan Karbon

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) pada 16 Juni 2009 oleh JP_NAPITU

Menaksir cadangan karbon tersimpan, dapat dilakukan dengan perhitungan kandungan biomass pada hutan tanah mineral dan ketebalan gambut. Kegiatan penafsiran cepat kandungan karbon (C) dilakukan dengan berbagai tehnik seperti terlihat pada gambar dibawah :

IMG_3424

cadangan karbon tegakan

karbon

karbon

karbon gambur

karbon gambur

karbon biomassa

karbon biomassa

diskusi cadangan karbon

diskusi cadangan karbon

cadangan karbon di lahan gambut

cadangan karbon di lahan gambut

Identifikasi Jenis Kayu

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) pada 16 Juni 2009 oleh JP_NAPITU

Tehnik mengenal jenis kayu dapat dilakukan berdasarkan ciri-ciri anatomis yang dimiliki kayu tersebut. Untuk mengidentifikasi kayu secara melalui anatomis kayu antara lain dilakukan berdasarkan pori-pori kayu tersebut. Pengenalan jenis kayu berdasarkan bentuk pori, ukuran dan jumlah pori dapat dilihat seperti bentuk-bentuk pori berdasarkan gambar dibawah ini :

pori  pori kayuuntuk mendapat kan informasi lebih lanjut tentang pengenalan jenis kayu, kelas kuat dan kelas awet..silakan kirim permintaan via mail : jp_na7@yahoo.com.

Aku Ingin Pintar

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) pada 12 Juni 2009 oleh JP_NAPITU

Keingintahuan anak sekolah dasar (SD) tentang berbagai hal, memang sangat perlu didukung. Jika bahan bacaan yang menarik bagi anak SD di sekolah  sangat kurang, bagaimana mereka dapat menambah wawasan dan mengetahui berbagai macam hal-hal yang sesuai buat mereka.

“Aku ingin pintar”..suatu ungkapan sederhana  bermakna sangat dalam bagi anak sekolah dasar (SD). Jika bahan bacaan yang menarik  untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan buat mereka saja sudah tidak ada ..bagaimana mereka bisa pintar ?.

Tentu kita harus ikut perduli terhadap keadaan ini, jika anda tertarik untuk menyumbangkan buku bacaan ke anak anak SD kami siap membantu  (send email : jp_na7@yahoo.com).

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

aku ingin pintar

Picture18

Deforestation and forest degradation factors

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) , , pada 22 April 2009 oleh JP_NAPITU

Jean-Paul Lanly1

Abstract

An accurate analysis of deforestation and forest degradation requires that clear distinctions be made between these two terms, between the factors and underlying causes of these processes and between direct (e.g. the different forms of agriculture) and indirect (e.g. the development of logging road infrastructure)factors. A very large number of deforestation studies, essentially in the tropics, were carried out in the last 40 years at all levels and were facilitated by remote sensing. However they seldom included an objective assessment of the respective share of the various direct deforestation factors. The situation is even less satisfactory regarding forest degradation due in particular to the imprecision and multiple, and often subjective, interpretations of the term and the gradation it implies. FAO forest assessments of 1980 to 2000 tried to determine the relative importance of direct deforestation factors at regional and global levels: horizontal expansion of the various forms of agriculture and animal husbandry taken together remains by far the most important direct factor, but the share of shifting cultivation as well as that of ranching and colonization programmes decreased during that period. Forest area changes in industrialized countries, generally positive, have been less the subject of study, contrary to what has been the case of forest degradation resulting from air pollution, fires, insects and diseases. In conclusion, stress is put on the need for every country to strengthen its capacity in all forest inventory disciplines in support of sound forest land use and management.

1 Ingénieur Général honoraire du Génie Rural, des Eaux et des Forêts, 42 rue Albert Thomas, 75010 Paris, France.
jean-paul.lanly@noos.fr


KUMPULAN GAMBAR PERUBAHAN HUTAN ALAM MENJADI HUTAN TANAMAN

Dikirim Hutan Indonesia pada 19 April 2009 oleh JP_NAPITU

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-1

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-9

kondisi-hutan-alam-produksi-yang-masih-bagus-digantikan-dengan-hutan-tanaman-bingung-17

Global Distribusi Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut Di Dunia

Dikirim Hutan Indonesia pada 19 April 2009 oleh JP_NAPITU

Jika kita memperhatikan proses distribusi Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut di dunia maka Indonesia merupakan negara yang sangat beruntung.  Potensi terbesar terhadap pendistribusian dari Terumbu Karang (coral), Bakau-bakauan (mangrove) dan Rumput Laut  (seagrass) dari ketiga jenis tersebut di dunia ada di Indonesia.

Kondisi alam negeri ini yang sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan dari  ketiga jenis diatas, sudah tentunya sesuatu yang sangat membanggakan dan selayaknya untuk di perhatikan. Tidak semua wilayah di muka bumi ini memiliki potensi Terumbu Karang , Mangrove dan Rumput laut tersebut.

Jika pengerusakan pengerusakan terus berlangsung yang disebabkan oleh penebangan liar, penangkapan ikan dengan menggunakan bom, pembuangan kotoran dan limbah beracun yang berlebihan ke sungai dan laut, tentu akan menyebabkan kerusakan akan potensi berharga tersebut. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan peranan semua pihak dan pemerintah untuk memperhatikan dan melindungi sehingga “potensi dunia” tersebut tidak hilang hingga punak. Selamatkan terumbu karang, mangrove dan rumput laut. Pendistribusian Terumbu Karang, Mangrove dan Rumput Laut seperti yang di lansir oleh UNEP.WCMC  Tahun 2001 terlihat seperti pada gambar dibawah ini :

distribution_of_coral_mangrove_and_seagrass_diversity2

Penguatan Sumberdaya Manusia Dalam Pengelolaan Hutan Dengan Pembentukan Sekolah Kehutanan Menengah Atas

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) , , pada 6 Februari 2009 oleh JP_NAPITU

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

Sumber Photo : http://www.skma.org/links-mainmenu-210/album-    skma-mainmenu-238.html

Penguatan sumberdaya manusia (SDM) bidang kehutanan harus dikembangkan dengan pembentukan kembali Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA), yang merupakan tenaga pioner dilapangan dalam pengelolaan hutan agar lebih baik. Terputusnya rantai tenaga teknis menengah kehutanan yang menguasai teknis kehutanan sangat dirasakan berdampak terhadap pengelolaan hutan.

Pengelolaan hutan tidak dapat dipandang sebagai permasalahan kecil yang cukup diatasi dengan perubahan kondisi alam, dari hutan alam menjadi hutan tanaman atau dari lahan gundul/gersang di tanami pohon agar menjadi hutan kembali. Pengalaman selama ini menunjukan kebijakan pengelolaan hutan tanpa pemahaman dengan pengalaman lapangan yang cukup tidak dapat menyelesaiakan permasalahan kehutanan.

Perubahan hutan alam menjadi hutan tanaman tidak menyelesaikan masalah kehutanan Indonesia hanya dalam pendapatan negara berupa PSDH namun secara keseluruhan perubahan tersebut berdampak pada aspek lain sehingga menggangu ekosistem yang ada. Pendapatan tersebut tidak seimbang dengan dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu perlu pengalaman lapangan dengan masa kerja mengabdi yang panjang sehingga dapat mengambil kebijakan yang pasti dalam penentuan pengelolaan hutan kedepannya.

Untuk menjawab permasalahan tersebut tenaga teknis menengah kehutanan yang didik di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) adalah salah satu carauntuk menjawab permasalahan tersebut. Sarjana kehutanan (S1) yang didik di kampus-kampus tidak dapat menyelesaikan permasalah terbukti dari kondisi yang dirasakan penulis saat ini. Hal ini di pandang akibat kurangnya pengalaman dan masa pengabdian untuk memahami hutan dan permasalahannya. Seyogyanya sarjana kehutanan yang dihasilkan merupakan lulusan SKMA yang telah mengabdi dihutan lebih kurang 2-3 tahun meningkatkan pengetahun setingkat Diploma (D1-D3) . Selanjutnya yang berpotensi mengabdi dilapangan setelah sekuranynya 2-3 tahun dapat meningkatkan pendidikan Diploma Ahli (D4), hingga menjadi Spesialis kehutanan  (S2), sampai Doktor Ahli (Phd).

Sistem pendidikan jalur cepat sekarang dengan perrekrutan tenaga kehutanan tingkat Sarjana Kehutanan (S1) dalam waktu 5-10 tahun menduduki jabatan pengambil kebijakan dalam pengelolaan hutan dirasa sangat cepat tanpa pengetahuan dan pengalaman mendalam tentang hutan dan poermasalahnya, sehingga cenderung lebih mementingkan emosi dan pengaruh tekanan politik atau keinginan seseorang atau kelompok. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kondisi kelestarian hutan. Tidak jarang kebijakan selalu berubah-ubah namun tidak membawa kearah perbaikan. Kebijakan yang dikeluarkan seakan tidak berpihak kepada hutan dan perbaikan kehutanan. Salah satu kebijakan yang sangat terasa adalah kebijakan percepatan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada hutan produksi.

Awal pengembangan HTI adalah pada lahan kritis/gundul yang tidak berhutan, namun saat ini HTI dikembangkan pada hutan alam produksi yang masih baik atau hutan sekunder yang masih memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna. Perubahan hutan alam produksi sekunder menjadi HTI tentu sangat berdampak terhadap ekosistem setempat, ditambah lagi tanaman yang ditanaman merupakan jenis tanaman Akassia.sp yang bukan merupakan jenis tanaman endemik sehingga perubahan akan terasa dari hulu hingga ke hili termasuk supplay makanan bagi ikan dan biota air lainnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa unsur hara dari hutan merupakan sumber makan dalam bentuk rantai makanan bagi biota air lainnya. Sehingga denan ini pemikiran akan perlunya pengalaman kerja di lapangan akan makna dan arti hutan dan permasalahannya sangatlah penting. Salah satu cara dengan mengembangkan kembali Sekolah Kehutaan Menengah Atas (SKMA) sebagai tenaga teknis menengah kehutanan yang memiliki pengalaman yang panjang nantinya. Akhirnya  harapan kita akan kelestarian hutan dan jayalah rimbawan Indonesia dapat terwujud.

PERUBAHAN HUTAN PRODUKSI YANG TIDAK DAPAT DIPAHAMI

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) , pada 1 Februari 2009 oleh JP_NAPITU

BAHAN DISKUSI  :  “APAKAH KARENA KAWASAN HUTAN PRODUKSI SEHINGGA DAPAT DIRUBAH MENJADI HTI DENGAN JENIS TANAMAN YANG BUKAN JENIS ENDEMIK INDONESIA… SEHINGGA  KITA AKAN MENANGGUNG AKIBATNYA KELAK.. APAKAH TANAMAN TERSEBUT DAPAT SESUAI UNTUK EKOSISTEM SETEMPAT ? “

Hutan Indonesia yang kaya akan berbagai jenis biodiversity dan merupakan suatu kebanggaan yang tidak dapat dinilai dengan apapun dan tidak dapat digantikan dengan apapun!!!!. Sesuatu yang patut disyukurin …… namun jika terjadi perubahan dari suatu kebijakan yang sangat tidak dapat dipahami maka wajar jika kita harus bertanya ..”ada apa dan berapa sih di ….????

Hutan produksi alam yang bagus status HP dan HPK menjadi HTI jenis Akassia magium suatu kebijakan yang tidak dapat dipahami ada apa dengan para forestry kita ada apa dengan para rimbawan indonesia..suatu yang tidak dapat dipahami…. “kondisi hutan yang mengalami kerusakan akibat illegal logging ..ok…lah sebagai alasan” namun jika semua hutan hujan tropis yang kaya akan berbagai sumberdaya alam dan sebagai sumber plasma nutfah ini harus diganti dengan HTI apalagi dengan penanaman jenis Akassia.sp yang kita tau sangat merusak struktur tanah dan akan merubah sistem hidrologis (tata air) yang ada, belum lagi hutan hujan tropis sebagai penghasil unsur hara hingga menjadi supplayer bahan makanan ikan di sungai – sungai tentu tentu tindakan tersebut menjadi tanda tanya .. ?? Apakah hutan produksi kita yang mengalami tekanan dapat kita terima diganti menjadi HTI Jenis Akassia.sp yang burung pun tidak mau mampir untuk cari makan…!! Apa tidak ada solusi yang lebih masuk akal… jika kita sadar dan ingin mengembalikan menjadi hutan alam lagi maka semua terlambat … struktur tanah yang rusak dan tata air yang rusak tidak akan dapat diperbaikin dalam waktu yang cepat dan suksesi hutan dari HTI menjadi hutan alam akan membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Belum lagi hal tersebut akan membuka kondisi karpet tidur (gambut tebal hutan hujan tropis) yang akan mengakibatkan meningkatnya lepasan carbon dioksida (CO2) ke atmosfir yang menambah parahnya efek rumah kaca …. satu sisi kita bicara “global warming”.. ada..ada saja….uuuuhm

Sesuatu kebijakan yang keliru dan sangat tidak masuk akal, para ahli seakan tutup mata terhadap kebijakan ini… namun saya mengajak para rimbawan mari kita untuk berpikir kembali dan jadilah “rimbawan” karena kiat diajarin yang namanya ekologi atau ekosistem hutan .. jangan masukan energi baru yang akan merusak alam dan lingkungan. Contoh “kasus penggunaan pestisida pada pertanian untuk memberantas hama dan efeknya merusak/berdampak terhadap tanah, air dan ikan yang kita rasakan setelah puluhan tahun ” hal tersebut tentunya tidak perlu terjadi pada bidang kehutanan. Gambar kondisi hutan alam produksi yang (hutan tropika basah) memiliki kekayaan biodiversity yang akan menjadi HTI Akassia.sp di kawasan Hutan Produksi Kab. Musibanyuasin Prop.Sumsel… “Cegah kesalahan ini”

jenis-jamur-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasia-no-2

jenis-jamur-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasia-no-2

jenis-kantung-semar-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasiasp

jenis-kantung-semar-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasiasp

kondisi-hp-ptrhm-akan-menjadi-hti-no1

kondisi-hp-ptrhm-akan-menjadi-hti-no1


KONDISI SISI LAIN KAWASAN HUTAN PRODUKSI

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) , , pada 18 Januari 2009 oleh JP_NAPITU

Hutan Produksi (HP) yang merupakan kawasan hutan yang dapat memberikan kontribusi berupa PNBP dari sektor Kehutanan sangat memprihatikan. Banyak kawasan HP kita yang telah mengalami kerusakan, hanya berupa padang alang-alang dan peyerobotan lahan dari masyarakat serta perkebunan sawit liar . Gambar dibawah ini merupakan salah satu sisi dari kondisi kawasan hutan produksi kita dari hasil peninjauan lapangan.

sawit-liar-di-hp1

sawit-liar-di-hp1

perkebunan-sawit-di-hp

perkebunan-sawit-di-hp

3-pemukiman-warga-di-hp1

pemukiman-warga-di-hp

4-jalan-pipa-gas-17-km-di-hp1

jalan-pipa-gas-17-km-di-hp

5-sejauh-mata-memandang-padang-ilalang-di-hp

sejauh-mata-memandang-padang-ilalang-di-hp

rencana-pembukaan-jalan-perkebunan-sawit-di-hp

rencana-pembukaan-jalan-perkebunan-sawit-di-hp

pengngakuan-ulayat-adat-di-hp

pengngakuan-ulayat-adat-di-hp

jalan-aspal-di-hp

jalan-aspal-di-hp

penyerobotan-lahan-oleh-masyarakat-dengan-penanaman-padi-dan-karet

penyerobotan-lahan-oleh-masyarakat-dengan-penanaman-padi-dan-karet

PENGELOLAAN HUTAN DI SUMATERA PADA JAMAN BELANDA

Dikirim Hutan Indonesia dengan kaitan (tags) , , pada 12 Januari 2009 oleh JP_NAPITU

Pengelolaan hutan telah berlangsung dalam waktu lama, pada zaman pemerintahan belanda masih ada di Indonesia pengelolaan hutan telah dilakukan dengan cara yang baik dengan mengikutsertakan pemerintah daerah yang lebih dikenal dengan sebutan “pesirah” dibawah ini merupakan salah satu bentuk dokumen ijin pemanfaatan hutan oleh rakyat jaman Belanda :

surat ijin jaman belanda 1

surat ijin jaman belanda 1

surat ijin jaman belanda 2

surat ijin jaman belanda 2

surat ijin jaman belanda 3

surat ijin jaman belanda 3

surat ijin jaman belanda 4

surat ijin jaman belanda 4

surat ijin jaman belanda 5

surat ijin jaman belanda 5