Archive for January, 2008
NAPITU
Posted in Napitu with tags Napitu, PARNA on 27 January 2008 by ja posman napituKajian Yuridis Plasma Nutfah Bagi Ketahanan Ekonomi Negara
Posted in ATURAN PERUNDANG UNDANGAN with tags kajian yuridis, plasma nutfah on 25 January 2008 by ja posman napitu“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
Yang dijabarkan lebih lanjut oleh Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 khususnya Pasal 3 yaitu bahwa :
“ Pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung di daratan, laut, dan angkasa dilaksanakan secara optimal, adil, berkelanjutan, dan ramah lingkungan”.
Pengelolaan sumberdaya alam yang dimaksud adalah pengelolaan semuan unsur-unsur sumberdaya alam hayati (nabati dan hewani), non hayati dan jasa lingkungan lainnya. Sumberdaya alam hayati yang sangat dipengaruhi karagaman jenis nabati dan hewani, dan keragaman jenis sangat tergantung dari kekayaan sumberdaya genetik (plasma nutfah). Plasma Nutfah diartikan merupakan substansi pembawa sifat keturunan yang dapat berupa organ utuh atau bagian dari tumbuhan atau hewan serta mikroorganisme (Anonim,2007). Upaya pengelolaan dan pelestarian sumberdaya alam hayati tidak dapat dilepaskan dari upaya pengelolaan dan pelestarian plasma nutfah selaku pembawa sifat keturunan species keanekaragaman hayati tersebut.
Pengelolaan Satwa Liar
Posted in Hutan Indonesia with tags Konservasi, satwa liar on 13 January 2008 by ja posman napituJumlah satwa liar pada habitatnya di alam bebas (hutan), merupakan salah satu bentuk kekayaan dan keanekaragaman (biodiversity) sumberdaya alam hayati, karena itu perlu dilakukan perlindungan. Untuk dapat melakukan perlindungan perlu diketahui jumlah dan sebarannya pada habitat satwaliar. Penentuan jumlah satwaliar tersebut dapat dilakukan dengan berbagai metoda sensus yang memudahkan kita untuk melakukan estimasi populasinya. Walaupun belum dapat diketahui jumlahnya secara pasti, namun metode ini merupakan cara untuk mendata populasi mendekati jumlah sebenarnya di habitat hidup satwa liar. Metoda yang dapat dilakukan diantaranya dengan metoda transects; merupakan salah satu metoda sensus satwa liar dengan cara pengamatan satwa pada jalur yang telah ditentukan dengan lebar jarak pengamatan dari garis tengah jalur selebar 25 m. Selain metoda transect digunakan pula metoda point count; yaitu pengamatan satwa liar pada plot sample berbentuk lingkaran dengan jari-jari lingkaran 25 m. Metoda tersebut di atas merupakan salah satu cara yang dipakai untuk sensus dan mengestimasi populasi satwa liar dalam habitat hidupnya.
Degradasi hutan
Posted in Hutan Indonesia with tags degradasi, hutan on 12 January 2008 by ja posman napituDegradasi hutan melalui proses alih guna lahan secara proses legal (kebijakan pemerintah) maupun akibat perambahan oleh masyarakat, menjadi suatu dilema yang sangat mengkwatirkan, saat ini degradasi hutan sebesar 1,8 juta Ha per tahun (Dephut,2004). Permasalahan degradasi ini menjadi hal yang sangat penting jadi perhatian semua pihak. Tulisan ini semata mata dibuat untuk menjadi perhatian semua dalam keperdulian terhadap degradasi hutan…melalui animasi yang dibuat kiranya dapat dipahami bahwa permasalahan degradasi hutan buka saja permasalahan institusi kehutanan (Dephut dan Kehutanan di daerah) namun semua institusi yang terkait dalam pengelolaan hutan dalam kesatuan Ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS).
Seresah Penahan Erosi Permukaan
Posted in Hutan Indonesia with tags erosi, seresa on 12 January 2008 by ja posman napituEmpowering Forest Dwellers and Managing Forests More Sustainably in the Landscapes of Borneo
Posted in Hutan Indonesia with tags Borneo, Dwelles, Managing Forest on 12 January 2008 by ja posman napituStudi ini tentang pemberdayan masyarakat asli sekitar hutan di Desa Melinau Kalimantan Timur yang merupakan areal yang luas dengan kondisi masyarakat antar desa sangat berjauhan dan terpencil yang merupakan gambaran umum tentang kondisi kemiskinan masyarakat sekitar hutan. Peneilitian ini di fokuskan pada permasalahan kerusakan hutan dan akibat yang ditimbulkan dikarenakan faktor kemiskinan masyarakat sekitar hutan. Salah satu faktor permasalahan adalah eksploitasi hutan yang tidak tepat mengakibatkan hilangnya biodiversity, yang mengakibatkan punahnya beberapa jenis tumbuhan berharga serta menurunya kualitas air menjadi bahan perhatian juga dalam riset ini.
.……….selengkapnya: Empowering Forest Dwellers and Managing Forests More Sustainably
Hubungan Alih Guna Lahan Terhadap Kerusakan DAS Musi
Posted in Hutan Indonesia with tags alih lahan, DAS, das musi on 10 January 2008 by ja posman napituKebutuhan akan air merupakan salah hal yang mutlak dalam kehidupan, dan hampir 60 % kebutuhan dan aktivitas masyarakat masih berasal dari aliran Sungai Musi. Namun kerusakan dan tingginya pencemaran Sungai Musi sudah sangat memprihantinkan. Berbagai faktor penyebab kerusakan dan pecemaran tersebut dan salah satunya adalah alih guna lahan di kawasan DAS Musi yang berdampak terhadap kerusakan dan pencemaran Sungai Musi sebagai muara DAS Musi. Permasalahan erosi dan sedimentasi serta pencemaran di hulu, tengah dan bahkan di hilir DAS Musi adalah permasalah yang kompleks, regulasi kebijakan masing-masing sektor tidak jarang saling bertentangan dan bahkan adanya tumpang tindih wewenang dalam mengatur pemanfaatan lahan dalam kawasan DAS Musi yang mengakibatkan hal itu dapat terjadi. Oleh sebab itu perlu dilakukan kerjasama lintas sektoral dan atau lintas kabupaten selaku pemegang kekuasaan wilayah administri pemerintahan dalam pengelolaan DAS Musi. Perlunya kerjasama secara terpadu agar aktivitas pengelolaan dan atau upaya-upaya perbaikan yang dilakukan masing-masing sektor maupun kabupaten tidak bertentangan dan tumpang tindih. Didalam makalah ini dijabarkan berbagai bentuk kerusakan dan pencemaran DAS Musi, faktor-faktor permasalahan, upaya-upaya penyelesaian, dan program-program kerja serta mengatasi permasalahan yang terkait dengan pengelolaan DAS Musi.
…….selengkapnya :Hubungan Alih Guna Lahan Terhadap Kerusakan DAS Musi
Hubungan Antara Karakteristik DAS Dengan Perkembangan Algae
Posted in Hutan Indonesia with tags algae, waduk. Karakteristik DAS on 10 January 2008 by ja posman napituBerbicara masalah kwalitas air tidak terlepas dari karakteristik sumber air (DAS) dan sifat fisik maupun kimia air tersebut.Kwalaitas air sangat dipengaruhi berbagai jenis biotic dan abiotik di dalam air tersebut. Unsur abiotik dapat berupa toksin-toksin yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya, Sedangkan unsur bilogis dapat berupa algae (cyanobacteria), masyarakat awam biasa menyebut algae sebagai lumut. Tumbuhan purba ini sering mengganggu sering terdapat di waduk-waduk, akuarium dan kolam renang. Itu adalah algae bersel banyak. Algae yang rendemen minyaknya tinggi dan pertumbuhannya cepat adalah tumbuhan bersel satu, terutama yang hidup di laut. Algae bersel satu ini tidak berakar dan tidak berdaun, tetapi berklorofil. Ia juga lazim disebut microalgae, phytoplankton, microphytes, planktonic algae, atau cyanobacteria. Produktivitas algae dalam menghasilkan biodiesel bisa tinggi karena beberapa faktor. Algae efektif dalam mengubah nutrisi dan karbon dioksida (CO2
…….selengkapnya :Hubungan Karakteristik DAS Dengan Perkembangan Algae
Konservasi Ekosistem Cagar Alam Daruprono
Posted in Hutan Indonesia with tags Cagar Alam, Ekosistem, Konservasi on 9 January 2008 by ja posman napituKawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokoknya yaitu ; hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Kawasan hutan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang terdiri dari ; kawasan hutan suaka alam yaitu hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan dan kawasan hutan pelestarian alam yaitu hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, dan taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu (Dephut,1999).
Kawasan konservasi cagar alam Pager wunung Darupono sebagai kawasan cagar alam sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.115/Menhut-II/2004 dengan luas 32,2 ha, memiliki potensi untuk menyediakan materi pendidikan lingkungan tersebut ditambah lagi lokasi cagar alam tersebut berdampingan dengan lokasi hutan tanaman Jati (Tectona grandis) yang dikelola oleh perhutani termasuk wilayah RPH Darupono, BKPH Boja, KPH Kendal dan berdekatan dengan lahan masyarakat (hutan rakyat) sehingga bisa sebagai modal perbandingan pola pengelolaan hutan.







