Archive for February, 2009

Penguatan Sumberdaya Manusia Dalam Pengelolaan Hutan Dengan Pembentukan Sekolah Kehutanan Menengah Atas

Posted in Hutan Indonesia with tags , , on 6 February 2009 by ja posman napitu

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

pengembangan-tenaga-teknis-menengah

Sumber Photo : http://www.skma.org/links-mainmenu-210/album-    skma-mainmenu-238.html

Penguatan sumberdaya manusia (SDM) bidang kehutanan harus dikembangkan dengan pembentukan kembali Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA), yang merupakan tenaga pioner dilapangan dalam pengelolaan hutan agar lebih baik. Terputusnya rantai tenaga teknis menengah kehutanan yang menguasai teknis kehutanan sangat dirasakan berdampak terhadap pengelolaan hutan.

Pengelolaan hutan tidak dapat dipandang sebagai permasalahan kecil yang cukup diatasi dengan perubahan kondisi alam, dari hutan alam menjadi hutan tanaman atau dari lahan gundul/gersang di tanami pohon agar menjadi hutan kembali. Pengalaman selama ini menunjukan kebijakan pengelolaan hutan tanpa pemahaman dengan pengalaman lapangan yang cukup tidak dapat menyelesaiakan permasalahan kehutanan.

Perubahan hutan alam menjadi hutan tanaman tidak menyelesaikan masalah kehutanan Indonesia hanya dalam pendapatan negara berupa PSDH namun secara keseluruhan perubahan tersebut berdampak pada aspek lain sehingga menggangu ekosistem yang ada. Pendapatan tersebut tidak seimbang dengan dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu perlu pengalaman lapangan dengan masa kerja mengabdi yang panjang sehingga dapat mengambil kebijakan yang pasti dalam penentuan pengelolaan hutan kedepannya.

Untuk menjawab permasalahan tersebut tenaga teknis menengah kehutanan yang didik di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) adalah salah satu carauntuk menjawab permasalahan tersebut. Sarjana kehutanan (S1) yang didik di kampus-kampus tidak dapat menyelesaikan permasalah terbukti dari kondisi yang dirasakan penulis saat ini. Hal ini di pandang akibat kurangnya pengalaman dan masa pengabdian untuk memahami hutan dan permasalahannya. Seyogyanya sarjana kehutanan yang dihasilkan merupakan lulusan SKMA yang telah mengabdi dihutan lebih kurang 2-3 tahun meningkatkan pengetahun setingkat Diploma (D1-D3) . Selanjutnya yang berpotensi mengabdi dilapangan setelah sekuranynya 2-3 tahun dapat meningkatkan pendidikan Diploma Ahli (D4), hingga menjadi Spesialis kehutanan  (S2), sampai Doktor Ahli (Phd).

Sistem pendidikan jalur cepat sekarang dengan perrekrutan tenaga kehutanan tingkat Sarjana Kehutanan (S1) dalam waktu 5-10 tahun menduduki jabatan pengambil kebijakan dalam pengelolaan hutan dirasa sangat cepat tanpa pengetahuan dan pengalaman mendalam tentang hutan dan poermasalahnya, sehingga cenderung lebih mementingkan emosi dan pengaruh tekanan politik atau keinginan seseorang atau kelompok. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kondisi kelestarian hutan. Tidak jarang kebijakan selalu berubah-ubah namun tidak membawa kearah perbaikan. Kebijakan yang dikeluarkan seakan tidak berpihak kepada hutan dan perbaikan kehutanan. Salah satu kebijakan yang sangat terasa adalah kebijakan percepatan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada hutan produksi.

Awal pengembangan HTI adalah pada lahan kritis/gundul yang tidak berhutan, namun saat ini HTI dikembangkan pada hutan alam produksi yang masih baik atau hutan sekunder yang masih memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna. Perubahan hutan alam produksi sekunder menjadi HTI tentu sangat berdampak terhadap ekosistem setempat, ditambah lagi tanaman yang ditanaman merupakan jenis tanaman Akassia.sp yang bukan merupakan jenis tanaman endemik sehingga perubahan akan terasa dari hulu hingga ke hili termasuk supplay makanan bagi ikan dan biota air lainnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa unsur hara dari hutan merupakan sumber makan dalam bentuk rantai makanan bagi biota air lainnya. Sehingga denan ini pemikiran akan perlunya pengalaman kerja di lapangan akan makna dan arti hutan dan permasalahannya sangatlah penting. Salah satu cara dengan mengembangkan kembali Sekolah Kehutaan Menengah Atas (SKMA) sebagai tenaga teknis menengah kehutanan yang memiliki pengalaman yang panjang nantinya. Akhirnya  harapan kita akan kelestarian hutan dan jayalah rimbawan Indonesia dapat terwujud.

PERUBAHAN HUTAN PRODUKSI YANG TIDAK DAPAT DIPAHAMI

Posted in Hutan Indonesia with tags , on 1 February 2009 by ja posman napitu

BAHAN DISKUSI  :  “APAKAH KARENA KAWASAN HUTAN PRODUKSI SEHINGGA DAPAT DIRUBAH MENJADI HTI DENGAN JENIS TANAMAN YANG BUKAN JENIS ENDEMIK INDONESIA… SEHINGGA  KITA AKAN MENANGGUNG AKIBATNYA KELAK.. APAKAH TANAMAN TERSEBUT DAPAT SESUAI UNTUK EKOSISTEM SETEMPAT ? “

Hutan Indonesia yang kaya akan berbagai jenis biodiversity dan merupakan suatu kebanggaan yang tidak dapat dinilai dengan apapun dan tidak dapat digantikan dengan apapun!!!!. Sesuatu yang patut disyukurin …… namun jika terjadi perubahan dari suatu kebijakan yang sangat tidak dapat dipahami maka wajar jika kita harus bertanya ..”ada apa dan berapa sih di ….????

Hutan produksi alam yang bagus status HP dan HPK menjadi HTI jenis Akassia magium suatu kebijakan yang tidak dapat dipahami ada apa dengan para forestry kita ada apa dengan para rimbawan indonesia..suatu yang tidak dapat dipahami…. “kondisi hutan yang mengalami kerusakan akibat illegal logging ..ok…lah sebagai alasan” namun jika semua hutan hujan tropis yang kaya akan berbagai sumberdaya alam dan sebagai sumber plasma nutfah ini harus diganti dengan HTI apalagi dengan penanaman jenis Akassia.sp yang kita tau sangat merusak struktur tanah dan akan merubah sistem hidrologis (tata air) yang ada, belum lagi hutan hujan tropis sebagai penghasil unsur hara hingga menjadi supplayer bahan makanan ikan di sungai – sungai tentu tentu tindakan tersebut menjadi tanda tanya .. ?? Apakah hutan produksi kita yang mengalami tekanan dapat kita terima diganti menjadi HTI Jenis Akassia.sp yang burung pun tidak mau mampir untuk cari makan…!! Apa tidak ada solusi yang lebih masuk akal… jika kita sadar dan ingin mengembalikan menjadi hutan alam lagi maka semua terlambat … struktur tanah yang rusak dan tata air yang rusak tidak akan dapat diperbaikin dalam waktu yang cepat dan suksesi hutan dari HTI menjadi hutan alam akan membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Belum lagi hal tersebut akan membuka kondisi karpet tidur (gambut tebal hutan hujan tropis) yang akan mengakibatkan meningkatnya lepasan carbon dioksida (CO2) ke atmosfir yang menambah parahnya efek rumah kaca …. satu sisi kita bicara “global warming”.. ada..ada saja….uuuuhm

Sesuatu kebijakan yang keliru dan sangat tidak masuk akal, para ahli seakan tutup mata terhadap kebijakan ini… namun saya mengajak para rimbawan mari kita untuk berpikir kembali dan jadilah “rimbawan” karena kiat diajarin yang namanya ekologi atau ekosistem hutan .. jangan masukan energi baru yang akan merusak alam dan lingkungan. Contoh “kasus penggunaan pestisida pada pertanian untuk memberantas hama dan efeknya merusak/berdampak terhadap tanah, air dan ikan yang kita rasakan setelah puluhan tahun ” hal tersebut tentunya tidak perlu terjadi pada bidang kehutanan. Gambar kondisi hutan alam produksi yang (hutan tropika basah) memiliki kekayaan biodiversity yang akan menjadi HTI Akassia.sp di kawasan Hutan Produksi Kab. Musibanyuasin Prop.Sumsel… “Cegah kesalahan ini”

jenis-jamur-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasia-no-2

jenis-jamur-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasia-no-2

jenis-kantung-semar-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasiasp

jenis-kantung-semar-di-kawasan-hp-pt-rhm-yang-akan-menjadi-hti-akasiasp

kondisi-hp-ptrhm-akan-menjadi-hti-no1

kondisi-hp-ptrhm-akan-menjadi-hti-no1