Oh daun… tetes air mata ini tidak dapat menahan rasa lapar…. berikanlah kami selembar daun yang begitu berarti bagi kehidupan kami, buanglah sisa-sisa daun itu … tidak kah kau kasihan lihat si Udang yang tidak henti-henti melompat lompat kelaparan…dan si Kerang yang berguling-guling manahan rasa melilit di lidahnya yang menyeramkan.
Oh daun, terima kasih kami kepada mu selembar daun mu… memberi arti bagi dunia kami di sungai dan laut.. Sekarang si Udang melompat dengan riangnya merasakan kenikmatan rasa si Fitoplankton dan Si Ikan seakan tersenyum menikmati si Zooplankton yang renyah..
Oh daun.. terima kasih ..daun mu telah memberikan kehidupan lain, Daun mu telah menghasilkan si Ikan rata-rata 320 ton ikan pertahun……. untuk disantap… atau si Udang yang telah mencapai 70-80 ton pertahun untk duduk manis di semangkok sup dan tertidur pulas di selembar kerupuk…
Tapi adakah kesedihan yang kau rasakan itu milik kami juga…. jeritan tangisan mu membuat hati ini seakan ter-iris memilukan.. atau kah tangisan itu buat teman kita yang duduk manis menikmati secangkir kopi di balik baju berdasi, tersenyum melihat dunia mu.. hancur……
Oh Sobat mengapa mereka mengira, Jika dunia mu tidak ada artinya …………hanya si kecil berwana hijau yang lama kelamaan menguning, jatuh dan tidak berarti..hanya si kecil yang dapat di injak dan diremat hingga hancur berkeping keping..yang telah memberi makan si Ikan, Si Udang, Si Kepiting, Si Kerang, Si Cumi-cumi, serta Si Otong dan Si Butet…..









