Kajian Singkat : SVLK INFRASTRUKTUR REDD + (Studi kajian mencakup : Perdagang Kayu, Emisi Karbon, dan Implikasi Carbon Trade)


I. Pendahuluan

Kerusakan Hutan di Indonesia yang saat ini menjadi perhatian para perduli lingkungan, hal ini disebabkan laju kerusakan hutan mencapai 3,8 juta per tahun (Johnston, 2004) atau berdasarkan data Dep. Kehutanan pada tahun 2006 dalam kurun waktu lima tahun (2001-2006) sebesar 2,83 juta Ha/tahun. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan menjadi sorotan berbagai pihak. Tingginya pembalakan liar (illegal logging) dampak dari rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia disekitar hutan dan kemiskinan menjadi alasan yang patut dan enak untuk diutarakan  “?”.

Namun ternyata kerusakan hutan berdampak global ; dari segi ekonomi yang apabila semua dampak tersebut di rupiah (Rp.)-kan maka lebih kurang US $ 5 milyar/tahun dan atau pendapatan negara + 1,4 milyar /tahun atau berdasarkan data Badan Penilitian Kehutanan sekitar Rp. 83 Milyar/hari (Antara, 2004). Kerugian tersebut baik berupa hilangnya kayu atau dampak finansial yang semestinya di peroleh dari keberadaan hutan baik langsung maupun tidak langsung. Kerusakan lingkungan (hutan) dampak dari pembalakan liar menjadi suatu sorotan utama pada setiap pertemuan Internasional yang menyudutkan Pemerintah Indonesia. Konteks ini Pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu dalam mengelola hutan secara baik.Hal tersebut tentu sangat dapat dimengerti, dan kerugian tersebut juga sangat dirasakan dengan berbagai bentuk bencana alam yang terjadi terkait dengan hilangnya keberadaan hutan dan fungsi fungsi hutan (banjir, longsong, kebakaran hutan, dll) yang secara ekonomi mengalami kerugian yang sangat besar dan bahkan korban jiwa.

Kondisi ini memang suatu hal yang sangat dilematis, upaya perbaik fisik yang tentunya memerlukan anggaran dana yang sangat besar, sarana penunjang (aspek ekologi), upaya perbaikan sumber daya manusia sekitar hutan (aspek sosial),  kebijakan nasional secara menyeluruh (aspek hukum) dan disisi lain perlunya peningkatan pendapatan negara dan pendapatan masyarakat sekitar hutan maupun pelaku usaha (aspek ekonomi). Oleh sebab itu dukungan semua pihak (masyarakat, pelaku usaha, pemerintah) dan dunia internasional sangatlah dibutuhkan.

II. SVLK

Sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) menrupakan suatu kebijakan yang berisi  persyaratan legalitas kayu yang dirancang dengan kurun waktu yang panjang dan melibatkan semua pihak (multi stakeholder). Berbagai verifier yang dinilai dalam konsep legalitas kayu, yang dapat di defenisikan bahwa legalitas kayu mencakup juga legalitas dan kepatuhan terhadap semua ketentuan instansi terkait dalam bidang perizinan industri, perdagangan, dan kehutanan, seperti terlihat pada gambar dibawah :

This slideshow requires JavaScript.

III. Analisa Emisi Karbon Dampak Implementasi SVLK

Asumsi ; jika saja peredaran kayu dalam negeri dan ekspor merupakan produk kayu yang legal artinya tidak ada lagi pencurian kayu maka hutan akan lestari (SFM) dan kandungan karbon dalam hutan akan tersimpan yang juga dapat diartikan dampak SVLK hutan akan terjaga dan pelepasan karbon akan menurun dari kondisi saat ini dan meningkatnya emisi karbon ?

Hasil penilitian yang dilakukan Sinambela TSP (2006), dalam judul “Kemampuan  Serapan Karbin Dioksida (CO2) pada 5 (lima) Jenis Tanaman Hutan Kota” disimpulakan bahwa daya serap CO2 bersih per individu pohon (gr/pohon/jam) di daerah Dramaga adalah sebagai berikut: daun krey payung sebesar 0,10; manggis hutansebesar 0,60; melinjo sebesar 0,39; sawo kecik sebesar; 0,37; dan trengguli sebesar 0,06. Daya serap CO2 bersih per hektar luas lahan (gr/Ha/jam) di daerah Dramaga dengan asumsi keseluruhan jarak tanam tanaman 5m x 5m adalah sebagai berikut: daun krey payung sebesar 40,8; manggis hutan sebesar 240,4; melinjo sebesar 156,0; sawo kecik sebesar; 146,8; dan trengguli sebesar 22,0. Keseluruhan tanaman ini memiliki kondisi iklim dan jenis tanah yang sama serta umur yang relatif sama. Jenis tanaman hutan kota di daerah Dramaga yang terbaik menyerap CO2 berdasarkan metode karbohidrat daun dari kelima jenis tanaman hutan kota ini berturut-turut adalah manggis hutan, melinjo, sawo kecik, krey payung dan trengguli. Atau apabila dirata ratakan sekitar 121,2 gr/ha/jam ( 0,12 kg/ha/jam)  jauh lebih kecil dari penelitian sebelumnya oleh McPherson (1995) dalam Dahlan (2004) sebesar 0,32-0,49 kg/m2.

III. Analisa Emisi Karbon Pada Hutan Hujan Tropis

Asumsi ; jika saja peredaran kayu dalam negeri dan ekspor merupakan produk kayu yang legal artinya tidak ada lagi pencurian kayu maka hutan akan lestari (SFM) dan kandungan karbon dalam hutan akan tersimpan yang juga dapat diartikan dampak SVLK hutan akan terjaga dan pelepasan karbon akan menurun dari kondisi saat ini dan meningkatnya emisi karbon ?

III.1.Kemampuan Serapan Karbon Pohon

Hasil penilitian yang dilakukan Sinambela TSP (2006), dalam judul “Kemampuan  Serapan Karbin Dioksida (CO2) pada 5 (lima) Jenis Tanaman Hutan Kota” disimpulakan bahwa daya serap CO2 bersih per individu pohon (gr/pohon/jam) di daerah Dramaga adalah sebagai berikut: daun krey payung sebesar 0,10; manggis hutansebesar 0,60; melinjo sebesar 0,39; sawo kecik sebesar; 0,37; dan trengguli sebesar 0,06. Daya serap CO2 bersih per hektar luas lahan (gr/Ha/jam) di daerah Dramaga dengan asumsi keseluruhan jarak tanam tanaman 5m x 5m adalah sebagai berikut: daun krey payung sebesar 40,8; manggis hutan sebesar 240,4; melinjo sebesar 156,0; sawo kecik sebesar; 146,8; dan trengguli sebesar 22,0. Keseluruhan tanaman ini memiliki kondisi iklim dan jenis tanah yang sama serta umur yang relatif sama. Jenis tanaman hutan kota di daerah Dramaga yang terbaik menyerap CO2 berdasarkan metode karbohidrat daun dari kelima jenis tanaman hutan kota ini berturut-turut adalah manggis hutan, melinjo, sawo kecik, krey payung dan trengguli. Atau apabila dirata ratakan sekitar 121,2 gr/ha/jam ( 0,12 kg/ha/jam)  jauh lebih kecil dari penelitian sebelumnya oleh McPherson (1995) dalam Dahlan (2004) sebesar 0,32-0,49 kg/m2.

III.2. Analisa Luas Areal Indeks pada  Hutan Hujan Tropis

        a. LAI

Penutupan tanah oleh tajuk tumbuhan dinyatakan yang dinyatakan dalam koverage adalah suatu kanopi. Area tanah yang ditutup oleh luas sejumlah daun dalam satuan  tertentu dapat dinyakan sebagai Indeks Luas Daun (Leaf Area Indeks) atau disebut sebagai LAI.  Formula perhitungan indeks LAI adalah sebagai berikut:

           LAI    =       Total luas area daun, hanya satu permukaan/ Unit area tanah

b.Tutupan Lahan

Hutan hujan tropis pada kawasan hutan produksi sudah sangat sedikit dan kondisinya dimungkinkan sudah pada kondisi hutan sekunder. Hasil  foto citra lansat pada salah satu kawasan hutan di Sumatera maka dapat dibagi 3 kelompok yaitu ; low secondary forest (hutan sekunder rendah ) sebesar 25 %, medium secondary forest) hutan sekunder menengah sebesar 40 % dan sisanya semak belukar dan lahan terbuka sebesar 10 %. Hasil Penutupan lahan yang dilakukan berdasarkan penelitian sebesar 34.11 %/Ha

Sumber : Forestindonesia.wordpress.com

II.3 Kemampuan Serapan Karbon Per HektarPer Jam  (Ha/Jam)

        Kemampuan serapan tegakan hutan per hetar dapat di peroleh dengan asumsi diatas, jika asumsi diatas dipergunakan 121,2 gr/ha/jam dan rata-rata tutupan lahan per Hektar sebesar 34,11 % maka dengan rata- rata jumlah tegakan sekitar 250 pohon maka potensi serapan sangan besar sebagaimana terlihat pada uraian dibawah :

Serapan 121.2 gr/ha/jam
Jumlah Pohon 250 pohon/ha
Persentase Tutupan 0.3411 %
Serapan Per Tutupan 41.34132 gr/ha/jam
Serapan Per pohon 85.275 gr/pohon/jam

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: