Exhausting Journey OP.SAIP NAPITU


Exhausting Journey Op. Saip Napitu’s
(Sekitar tahun :1859-1938)

(Parbalogan – Sipolha – Panguluran-Tele –Sumbul- Alas – Pematang Raya – Purba Saribu – Parbalogan)
——————————————————
Ekspansi manusia untuk mencari lahan baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terus terjadi, tidak terkecuali “bangsa” batak. Pada skala lokal terjadi “pembukaan huta” dari satu huta ke huta baru selanjutnya. Orang yang pertama membuka huta baru dikenal dengan sebutan “sipukka huta”. Percecokkan antara “sipukka huta” dalam legitimasi hak atas tanah antara pendatang baru dan penduduk yang telah ada sebelumnya tidak jarang menimbulkan perang saudara maupun perang antar marga.
—————————————————-
Marga Napitu  di Huta Bolun – Parbalogan dipredikdi sejak tahun 1480-an dengan migrasinya op.mangalolo dari ‘huta sibatu-batu’ di P.Samosir menuju ‘batu hoda’ Parbalogan. “Parbapaon” marga Napitu di   merupakan daerah yang awalnya dibuka (sipukka huta) oleh marga Napitu (dari generasi ke 1/2 dari op.marpaung  yaitu op.Mangalolo dan op.dja nahal dan  op.dja nahal sudah lahir di “huta bolon”) informasi migrasi ini juga dengan pinopar  dari Op. Bonani huta tetapi kembali ke Si batu-batu bersama dengan pulangnya op.mangalolo ke sibatu batu.
(ctt: prediksi umur rata” ± 70-75 th)
——————————————————–
“Politik dan Eskalasi Kekuasaan”

Puncak eskalasi politik dalam kekuasaan dengan adu domba (Devide et impera) antar marga terjadi sekitar tahun 1812-an diera-parbapaon Op.Jabongbong (si Djahurung)  (generasi ke 5 dari op.marpaung)  terhadap “parbapaon napitu” di wilayah parbalogan- tigaras. (wilayah Parbapaon dimulai dari tanjung unta sampai batas Sungai kecil setelah lewat sedikit onan tigaras). Persaingan kekuasaan dengan adanya serangan dari marga dan kelompok lainnya mengakibatkan Op.Jabongbong (parbapaon ke 2 setelah Op.Marihat (atau bergelar si Djahurung memiliki kemampuan membuat pencuri atau pendatang yang tidak diundang tidak bisa pulang karena lingkung))  sekitar tahun 1859 mengungsi ke Sipolha bersama anak dan keluarganya serta beberapa orang kerabat Op.bahul Silalahi (orang tua op.Langgu silalahi).  Selanjutnya dari sipolha menuju Pangururan dan tinggal disana hingga akhir hayatnya dan sampai saat ini kuburannya tidak diketemukan. Sekitar usia 20 tahun Op Saip (si Marihat) putra dari Djahurung melanjutkan perjalanan ke Tele selanjutnya ke sumbul dan dari sumbul menuju Tano Alas  sekarang Aceh. Selama berada di tano alas Op. Saip marguru dengan “Puang Bolon Uhul” atau ulama besar dari  Raja Sekendang. Selama di “Tano Alas” Op. Saip menjadi puang dari Raja Sikendang dan menganut agama Islam.  Sekitar 1875-an Op.Saip pulang ke tanah leluhurnya melalui Pematang Raya di Pematang Purba di tangkap sama pasukan Raja Purba  namun akibat memiliki kesaktian yang luar biasa akhirnya diangkat menjadi panglimo raja purba yang disebut namanya menjadi “sinapitu” dan bergelar Dja Bongbong artinya dapat mengembuskan angin atau “pahabang alogo bolon” (sinapitu dalam tutur simalungun masuk dalam marga yang diakui dalam kesepakatan harungan bolon Harajaon Simalungun, dan Partua Maujana Simalungunpertama adalah marga Napitu lebih kami kenal dengan sebutan “oppung pematang” yang membagi tanah seluruh di Pematang Siantar sekitar tahun 1960-an setelah terbentuknya Kabupaten Simalungun berdasarkan UU No 7/1956).
——————————————–
Rasa penasaran terhadap kampung halaman selalu memaksa Op.Saip untuk balik ke “Huta Bolon Parbalogan” untuk menjalankan amah dari Bapaknya Op.Djabongbong (Si Marihat). Menuju ke parbalogan dilalui dari “Huta Harang Gaol” namun sebelum ke harang gaol mampir ke “Huta Purba Saribu” dan menikah dengan Putri Boru Damanik (karena simalungun) dari Purba Saribu. Setelah berlangsung beberpa tahun, pada tahun sekitar 1890-an untuk menunaikan tugasnya  bersama pasukan Raja Purba dan beberapa keluarga dari Purba Saribu berangkat dengan sebanyak “40 solu bolon” menuju parbalogan …. mendengar pasukan Raja Purba dan  Si Marihot datang semua pasukan yang mengambil alih Parbalogan lari tunggang langgang. Putranya yang pertama diberi nama Djabongbong untuk mengenang hubungan dengan Raja Purba, danpada tahun 1902 memiliki  putra kedua bernama di Bitik Nurasi Napitu atau (Op.Johanes Doli).
Catatan:
1.Parbapaon digunakan untuk pemukka huta jaman dulu yang pada era kerajaan Simalungun sebelum masuknya Belanda ke Simalungun, setelah masuknya belanda diganti menjadi “Korte Verklaring” atau  “Partuanan” (sekitar 1907)
2.Perbatasan parbapaon [sebelah utara perbatasan dengan  tigaras dan sebelah selatan setelah tanjung unta.
3.Arti Tigaras : Tiga = Pasar Ras= Rasun, tigaras tempat jual beli racun dan ilmu hitam lainnya yang dikenal rawan pada zamannya marga Napitu yang memiliki kemampuan itu antara lain  Op.Saip (tuan Parbalogan), Op.Ajis dan Op.Apon) dapat penerbangan losung dan pisau terbang dari jarak jauh.
4.Tona poparan Napitu sian huta bolon atau parbalogan dilarang kawin sama putri dari tano alas, karena op saip dulu informasinya pernah menikah disana sehingga dari pada “kawin namariboto alani dang di boto tumagonan da ong” kira kira begitu pesan yang disampaikan.
5.Ajaran islam di Parbalogan dan Tigaras sudah ada dari dulu namun perkembangan bersifat penyaluran ilmu panoragan antara anak murid dan puang (guru) bukan penyebaran dan termasuk dibawakan oleh Op.Saip dari Tano Alas (Mis. : melafalkan dalam doa surat Yasin 1000x bisa tahan pukul, melafalkan atau membaca surat Al’fatiha 40 x bisa hilang, bisa menulis surat kaligrafi surat Al’ikhlas berbentuk manusia bisa menghilang.. dll) makanya di Tigaras ada “Surau yang saat ini sudah menjadi Mesjid” itulah sebabnya mengapa Napitu dari “huta bolon”- parbalogan banyak yang manganut agama Islam.
6.Perhitungan tahun dalam tulisan ini didekati dari umur dan beberapa bukti yang tertulis di Makam para Op. Namun tidak menutup kemungkinan ada perbedaan taksiran.
7.Jika ada kekurang sempurnaan dalam historical  Exhausting Journey Op. Saip Napitu’s ini sangat diharapkan bila dapat disempurnakan, dan mohon maaf jika ada kesalahan.

image

Makam Op Saip Napitu

image

Makam Op.Johannes (Putra Ke 2

Bersambung….
Semua informasi ini didapat dari sumber :
1.Op. Sahma (Pa.Saip) berdasarkan memori ingatan cerita tentang sejarah parbalogan (sekitar 1980) terkait asal mula nama Djabongbong
2.Op.Johananes Boru (Br.Manik)  istri dari (1984)
3.Op. Apon (pa Sopar) anak dari Op.Saip yang nomor 4 selama di Parbalogan
4.Pa. Johannes  (Op.Roi) selama di Parbalogan
5.Sopar Baharudin Napitu (Pa.Samaria) (Op.Julius Napitu) dan Istriya, selama di Bandar Jaya-Palembang
6.DJabanten  Napitu (Pa.Elida) (Op. Daniel), selama di Pamatang Siantar
7.Samuel Napitu (Pa. Tupal) (Op..), di Parbalogan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: